Senin, 19 Agustus 2013

Sosial Dan Budaya

Putri ke-4 Sri Sultan Akan Segera Menikah


Gusti Raden Ajeng (GRA) Nurabra Juwita & Angger Pribadi Wibowo telah memiliki nama baru jelang pernikahan 22 Oktober 2013. Wisuda penyematan nama tersebut berlangsung Senin (12/08) di Kraton Kilen Yogyakarta. Bedasarkan surat Kawedanan Hageng Panitra Pura No. 13/KHPP/U/VIII/2013, kedua calon mempelai kini memiliki asma baru yaitu Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan calon mempelai pria memiliki nama KPH Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Notonegoro.

Nama baru tersebut merupakan salah satu syarat untuk menuju jenjang pernikahan, jelas Humas Kraton Yogyakarta KRT Jatiningrat (Romo Tirun). "Nama merupakan medium untuk mempertajam doa, tugas yang diemban saat berkeluarga nanti berat, sehingga diharapkan banyak orang mendoakan agar kedua mempelai mampu mengarungi fase kehidupan ini," jelas Tirun.

Abra dan Angger sendiri merupakan sosok yang sebenarnya sudah saling mengenal sejak tahun 2000. Keduanya resmi berpacaran pada tahun 2003. Kisah cinta keduanya mulai saat Abra kuliah di Amerika Serikat (USA). Angger pun juga mengikuti program scholarship dilokasi yang sama, oleh karena itu hubungan keduanya menjadi semakin dekat.

Abra bergelut sebagai wanita karir, ia mengaku sudah terbiasa pacaran jarak jauh dengan Angger yang bekerja di USA sebagai pegawai di United Nations Development Programme (UNDP). Untuk mengisi waktu setelah lulus kuliah S1, ia bekerja sebagai project manager disebuah perusahaan untuk internet banking di Jakarta, kemudian mengundurkan diri dan masuk bekerja di Gameloft sebagai Game Producer sejak September 2012 hingga Maret 2013.

"Setelah menikah nanti, saya berkeingian untuk melanjutkan studi S2 ke New York 2014 mendatang dan setelah lulus nanti bisa memiliki perusahaan sendiri," jelas Abra.

Mengenai pernikahan, Abra mengaku tidak akan ada yang spesial bila dibandingkan dengan prosesi adiknya GKR Bendoro yang telah terlaksana 2011 silam. "Hanya saja mungkin arak-arakan kereta lebih banyak," pungkas Abra saat mengakhiri sesi tanya jawab tadi siang bersama rekan-rekan media.

Merah Putih Berkibar di Dasar Laut di Selayar

 


Pengibaran bendera merah putih di bawah laut perairan Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, dalam rangka memperingati HUT ke-68 RI, Sabtu (17/8/2013).
Seperti dilansir metrotvnews.com, sebanyak 36 penyelam yang terdiri dari warga setempat, mahasiswa, Basarnas, anggota Korpri, polisi, pemerintah daerah, dan TNI siap ambil bagian dalam pengibaran bendera merah putih di bawah laut Selayar.
Acara ini disiarkan oleh Metro TV dalam laporan langsung reporter Metro TV Makassar, Rachel Marimbuna.
Dipaparkan, untuk mendukung acara tersebut, telah disapkan empat speed boat yang akan mengangkut para penyelam, 98 tabung oksigen, 42 regulator, 245 kilogram pemberat, 46 fin, 44 masker dan 45 wetsuit.
Lokasi pengibaran bendera berada sekitar satu mil dari Pelabuhan Rakyat, Benteng, Kabupten Selayar.
Lokasinya bernama Sitio Mardin dengan kedalaman sekitar 8-20 meter di bawah permukaan laut. Lokasi itu tepat untuk pengibaran bendera karena permukaan tanah di bawah lautnya datar.
Sitio Mardin masih menjadi bagian dari wilayah Taman Nasional Taka Bonerate yang terkenal sebagai kawasan atol terbesar ketiga di dunia.



Bentuk Karakter Generasi Muda dengan Wayang

 Hilang rasa memiliki kebudayaan sendiri akhir-akhir ini menjadi keprihatinan generasi tua. Betapa tidak, wayang yang sebenarnya telah menjadi warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur serta telah ditetapkan sejak 7 November 2003 pun ikut menerima imbasnya.

Wayang seolah-olah ditinggalkan anak cucu penerus bangsa Indonesia. Tidak ada rasa peduli, bahkan suatu ketika bisa hilang tidak terdengar gaungnya suatu ketika nanti. Agar kegalauan itu pupus, UGM bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Pemda DIY berinisiatif mencari jawaban atas krisis budaya tersebut.

Sebuah kegiatan positif untuk mengangkat eksistensi wayang akan segera berlangsung di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri UGM, Hotel Inna Garuda pada 21 - 25 Agustus 2013. "Langkah untuk membuka kran informasi terbuka untuk semua kalangan, memperkenalkan kembali pagelaran wayang pada generasi muda serta membangun strategi pengembangan wayang ditengah era modern," jelas Dr. Ida Rochani Adi selaku ketua penyelenggara kegiatan.

acara yang bertajuk Wayang For Humanity sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk membuka simpul budaya wayang keranah publik agar dicintai oleh penerus bangsa. Kegiatan berupa kongres internasional, pameran wayang, pembuatan mural wayang oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X, demo pembuatan wayang serta pagelaran wayang semalam suntuk.

Kepala Dinas Kebudayaan Pemda DIY, Drs.GBPH. Yudhaningrat. MM mengungkapkan bahwa generasi muda saat ini wajib mendapatkan arahan akan budayanya sendiri. Rasa memiliki akan seni tradisi wajib ditanamkan sejak awal agar tidak hilang kemudian nanti. "Kami berharap, wayang bisa menjadi suri tauladan karena memiliki banyak nilai positif berupa tatanan, tuntunan dan panutan, jangan sampai hilang," katanya.

Ia juga berharap agar kegiatan internasional yang juga diikuti oleh 5 negara ini mampu meningkatkan kualitas pertunjukan wayang agar tidak merosot, tetap lestari sebagai budaya adi luhung, serta kemudian akan menjadi kurikulum yang masuk ke ranah pendidikan suatu ketika nanti. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar