Senin, 19 Agustus 2013

Kesehatan


Vaksinasi Hepatitis Bayi 0 Bulan


SEMAKIN muda usia bayi, makin berisiko terinfeksi hepatitis B kronis. Upaya pencegahan dilakukan dengan pemberian vaksinasi bagi bayi berusia 0 hari.

Hepatitis B merupakan salah satu masalah kesehatan publik yang terbesar di dunia. Sedikitnya sekitar dua miliar orang telah terinfeksi oleh virus ini dan 450 juta orang di antaranya merupakan pembawa (carrier) virus hepatitis B kronis. Penyakit ini merupakan infeksi hati yang disebabkan virus hepatitis B dan dapat berujung kematian dini akibat sirosis, kegagalan fungsi hati, dan kanker hati.

Hepatitis B juga merupakan penyebab kanker kedua tertinggi setelah merokok. Mereka yang terinfeksi virus tersebut memiliki risiko 200 kali lebih tinggi menderita kanker hati, ketimbang orang-orang yang tidak terinfeksi. Fakta yang lebih mengejutkan, virus hepatitis B lebih gampang menular 50–100 kali dibanding human immunodeficiency virus (HIV).

Prof Dr Mohammad Juffrie PhD SpAK menyatakan, hepatitis B ditularkan melalui darah, sperma, atau cairan tubuh lainnya yang terinfeksi virus ini dan masuk ke dalam tubuh seseorang yang tidak terinfeksi.

“Transmisi atau penularan hepatitis B yang paling utama dan umum di dunia, termasuk di Indonesia adalah penularan dari ibu ke bayinya. Oleh sebab itu, bayi sangat rentan terinfeksi hepatitis B kronis. Semakin muda usia bayi, semakin dia berisiko terhadap infeksi hepatitis B kronis,” kata Juffrie dalam simposium yang diadakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan tema “Pentingnya Vaksinasi Hepatitis B Nol Hari untuk Bayi” di Balai Kartini, Jakarta.

Di sinilah perlunya vaksinasi, terutama bagi bayi yang baru lahir sebagai langkah pencegahan. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada 2011 merekomendasikan agar vaksin hepatitis B diberikan dalam jangka waktu 12 jam setelah bayi lahir, sebab sebanyak 70%–95% infeksi perinatal hepatitis B dapat dicegah dengan cara ini. Namun, rupanya virus ini bukan hanya menghantui bayi semata. Pekerja kesehatan juga rentan terkena hepatitis B.

Ya, faktanya, pekerja kesehatan termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi hepatitis B. Bahkan, kalangan ini berisiko 2 hingga 10 kali lipat lebih tinggi terinfeksi hepatitis B.

Dr Irsan Hasan SpPDKGEH menyebut, ada satu pekerja kesehatan yang meninggal setiap harinya karena hepatitis B. Dalam hal ini, pekerja kesehatan adalah dokter, perawat, teknisi laboratorium, hingga tenaga kebersihan.

“Penularan dapat terjadi akibat luka oleh benda tajam seperti jarum, pisau, atau benda tajam lainnya, juga melalui paparan selaput lendir dengan cairan tubuh,” kata Irsan.

Di Indonesia 1 dari 10 orang hidup dengan hepatitis B kronis. Indonesia bahkan boleh dibilang menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan jumlah penderita hepatitis B tertinggi. Penyebabnya adalah masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini. Sebanyak 2 dari 3 orang yang menderita hepatitis B kronis tidak mengetahui bahwa mereka terinfeksi. Dikarenakan tidak sedikit pengidap yang tidak menunjukkan gejala.

Oleh sebab itu, hepatitis B disebut sebagai silent killer. Pengidap baru menyadari setelah terjadi kerusakan hati dan pada saat itu keadaan sudah sulit untuk diobati. Maka itu, tindakan pencegahan sangatlah perlu bagi pekerja kesehatan. Selain karena virus hepatitis B dapat membahayakan jiwa penderita yang terinfeksi, rumah sakit merupakan tempat di mana masyarakat seharusnya merasa aman dan terlindungi.

Kepercayaan masyarakat berkurang jika pekerja kesehatan terinfeksi penyakit dari pasien yang mereka tangani. Pekerja kesehatan seharusnya menjadi teladan dalam melindungi diri dari infeksi dan penyakit yang ada di sekitarnya.

“Akan sangat baik jika para pekerja kesehatan bersedia untuk menjadi duta hepatitis yang menyampaikan informasi mengenai hepatitis kepada pasien mereka,” ujar Irsan.

Peran serta pekerja kesehatan atau tenaga medis, lanjutnya, sangat diharapkan agar upaya yang dilakukan untuk menyosialisasikan pentingnya vaksinasi hepatitis B ini dapat membantu menekan jumlah kasus hepatitis yang terjadi di Indonesia.

Sebelumnya simposium yang sama diadakan di tiga kota, yaitu Denpasar, Surabaya, dan Palembang. Simposium di ketiga kota tersebut telah berlangsung dengan sukses dan dihadiri oleh sebanyak 400 orang pekerja kesehatan. Tepat pada hari Hepatitis Sedunia, simposium di Jakarta ini merupakan acara puncak juga dihadiri oleh Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K) MARS DTMAH DTCE, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Tjandra menyampaikan bahwa dibutuhkan upaya yang giat dan terus-menerus dalam membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia akan bahaya penyakit hepatitis B. “Lewat simposium ini semoga dapat menyebarluaskan informasi yang lebih mendalam sekaligus mengimbau masyarakat untuk lebih waspada akan bahaya hepatitis B,” tutup Hegar. (tty)




Aspirin Turunkan Risiko Kematian Kanker Usus Besar

 

 DOSIS rendah aspirin yang secara teratur dikonsumsi pasien kanker usus dan paru-paru sebelum diagnosis cenderung memperlambat perkembangan tumor mereka. Benarkah?

Menurut penulis penelitian, Yudi Pawitan, para ilmuwan sudah mengetahui aspirin berhubungan dengan penurunan risiko kematian bagi penderita kanker usus besar.

“Kami menunjukkan bukti bahwa hal itu juga bermanfaat untuk kanker paru-paru, dan memiliki kedua efek perlindungan, yaitu di awal dan akhir,”ujar Pawitan dari department of medical epidemiology and biostatistics di the Karolinska Institutet, Swedia, dikutip Newsmaxhealth.

Namun, para peneliti mengatakan, temuan ini tidak berarti setiap orang harus minum aspirin untuk menangkal kanker stadium lanjut. Pawitan dan rekan-rekannya menganalisis data dari Swedish cancer and prescription drug yang mencakup 80.000 pasien dengan kanker usus besar, paru-paru, prostat, dan kanker payudara.

Satu dari empat orang dengan kanker usus besar, paru-paru atau kanker prostat teratur mengkonsumsi aspirin dosis rendah sebelum didiagnosis, biasanya satu tablet 75 milligram per hari dibandingkan dengan sekitar satu dari tujuh pasien kanker payudara.

Lebih lanjut, para peneliti menemukan 20 sampai 40 persen lebih sedikit untuk kanker usus dan paru-paru. Namun, pasien kanker payudara yang mengonsumsi aspirin, tumor menyebar ke area lain dari tubuh daripada mereka yang tidak mengonsumsi aspirin.

Kemudian, menurut penelitian yang dipublikasikan the British Journal of Cancer, tumor rata-rata lebih kecil dan kurang berkembang bagi pengkonsumsi aspirin dengan kanker usus besar dan paru-paru, tetapi tidak pada mereka dengan kanker payudara atau kanker prostat.

“Tulisan ini menegaskan penggunaan aspirin berhubungan dengan penurunan risiko dan kelangsungan hidup yang lebih baik,”ungkap Dr Gerrit-Jan Liefers, seorang ahli bedah kanker di Leiden University Medical Center, Belanda. (ind)

Minuman Sehat Ini Ampuh Usir Racun di Tubuh

 

 ANDA butuh referensi minuman yang bisa membuang racun-racun dalam tubuh? Bila iya, mungkin minuman hijau smoothie ¬ bisa menjadi pilihan.

Meminum minuman hijau smoothie ide yang baik untuk menjaga menjaga dan meningkan kesehatan tubuh. Pasalnya, mengonsumsi minuman ini tak hanya akan membantu detoktifikasi, tetapi juga meningkatkan kekebalan tubuh dan saluran pencernaan. Kondisi itu bisa terjadi karena minuman ini terdiri beberapa buah dan sayuran yang membantu melawan penyakit.

Bila Anda penasaran mencobanya dan ingin sekali membuat minuman ini, Akansha Jhalani selaku ahli gizi berlisensi mengungkap resep minuman yang menakjubkan ini. Berikut ulasannya seperti dilansir Healthmeup.

Bahan:
•Setengah buah apel
•Setengah buah pisang
• Empat potongan jeruk
• Setengah cangkir nanas
• Satu buah wortel
• Satu cangkir bayam
• Satu setengah cangkir teh
Cara pembuatan:

Campurkan semua bahan ke dalam blender, dan kemudian blender sampai halus. Selesai blender, tambahkan es jika perlu dan minuman pun siap untuk diminum. (ind)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar